BAB 1
Kasus-Kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia Dalam Perspektif Pancasila di Indonesia
a. Pengertian dan Macam-macam Hak Asasi Manusia
Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan keberadaan manusia sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia ( pasal 1 angka 1 UU Nomor 39 Tahun 1999).
Konsep HAM secara prinsip adalah universal, tapi dalam pelaksanaan sistimnya berbeda pada masing-masing negara, menyesuaikan dengan kondisi politik dan sosial budaya masing-masing negara. Konsep HAM negara-negara barat siafatnya individualisme, menitik beratkan pada hak-hak individu sehingga melahirkan liberalisme dan kapitalisme. Konsep HAM Negara Komunis, menitik beratkan pada hak-hak masyarakat, sehingga hak individu menjadi terbatas. Sementara HAM di Indonesia mendasarkan pada prespektif kepribadian dan pandangan hidup bangsa, yaitu Pancasila, sehingga konsep HAM Indonesia menjaga keseimbangan antara hak-hak individu dan hak-hak masyarakat.
Bangsa Indonesia terdiri atas bermacam suku bangsa yang memiliki karakter, kebudayaan, serta adat istiadat yang beraneka ragam, memiliki agama yang berbeda dan terdiri dari beribu-ribu pulau di wilayah Nusantara. Dalam proses panjang perjalanan sejarah dan beratus tahun dala perjuangan untuk mencari jati diri, bangsa Indonesia menemukan kepribadian dan pandangan hidup/ideologi bangsa yaitu Pancasila. Keragaman suku bangsa, dan keragaman budaya, adat istiadat, agama, bangsa Indonesia mengikatkan diri dalam satu persatuan dengan selogan Bhineka Tunggal Ika.
Asas kehidupan bangsa Indonesia yang pertama adalah Ketuahan Yang Maha Esa, yang berarti nilai nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme yang religius, yaitu nasionalisme yang bermoral Ketuhanan Yang Maha Esa, nasionalisme yang humanistik yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai mahluk Tuhan, menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia, menghargai hak dan martabat tanpa membedakan suku, ras, keturunan, status sosisal maupun agama, mengembangakan sikap saling mencintai antar sesama, tenggang rasa, tidak semena-mena terhadap sesama manusia serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam pembukaan UUD 1945 alinea pertama dinyatakan “bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segenap bangsa dan oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan”. Pernyataan alinea pertama ini pada hakikatnya, merupakan pengakuan terhadap kebebasan hak untuk merdeka, pernyataan peri kemanusiaan adalah inti sari hak-hak asasi manusia. Selanjutnya alinea kedua “........ Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.” Kata sifat adil menunjukan kepada salah satu tujuan dari negara hukum untuk mencapai suatu keadilan. Apabila prinsip negara hukum betul-betul dijalankan, maka dengan sendirinya hak-hak asasi manusia akan terlaksana dengan baik. Alinea ketiga “ Atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya ..... “ Pernyataan nilai religius dalam kehidupan bangsa Indonesia, mengandung perlindungan hak asasi dalam kebebasan bidang politik. Selanjutnya dala alinea keempat, menunjukan pengakuan dan perlindungan dalam segala bidang, yaitu politik, hukum, sosial, kultural dan ekonomi.
HAM dalam pandangan hidup dan kepribadian bangsa Indonesia yaitu Pancasila dan dijabarkan dalam UUD NRI 1945, seperti pasal 27 ayat 1, pasal 28, pasal 29 ayat 2, pasal 30 ayat 1, pasal 31 ayat 1, pasal 32, pasal 33, pasal 34, sudah cukup kandungan niai-nilai kemanusiaan, atau Hak Asasi Manusia dalam berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kamis, 22 Desember 2016
Jumat, 16 Desember 2016
Drama 18 Orang "SEKAMPUNG"
NASKAH DRAMA “SEKAMPUNG”
Nama Pemain :
1. Anna Triziana (02) sebagai Bu Marni
2. Denita Ardi Susanti (05) sebagai Teh Eis
3. Dewi Saroh (07) sebagai Bu Emi
4. Dian Ari Safitri (08) sebagai Lilis
5. Edi Prabowo (12) sebagai Pak Aris
6. Eni Parwati (14) sebagai Eni
7. Gita Putri Rahmawati (16) sebagai Aisyah
8. Maya Lestiono M. (18) sebagai Bu Rani
9. Mugi Lestari (21) sebagai Fatimah
10. Nita Meliani (23) sebagai Bu Ani
11. Oki Kurniawati (24) sebagai Bu Yati
12. Riana (27) sebagai Butet
13. Rossy Hanicha (29) sebagai Virgo
14. Rumiati (30) sebagai Bu Lastri
15. Septi Prastiya Yanti (31) sebagai Bu Yanti
16. Sofia Dwi Yanti (33) sebagai Bu Nining
17. Sri Haryati (34) sebagai Bu Endah
18. Ulfatun Sa’diyah (35) sebagai Rasi
SEKAMPUNG
Di sebuah desa ada satu keluarga yang mempunyai masalah, lebih tepatnya broken home, yaitu keluarga dari Bu Emi. Seperti biasa, Bu Emi mengurus rumah dan anaknya yang cacat bernama Rasi. Untuk kehidupan sehari-hari mereka hanya mengandalkan penghasilan dari warung rujak didepan rumahnya.
ADEGAN 1
Sambil membersihkan beras
Bu Emi : Ya Tuhan berikanlah aku kekuatan supaya aku bisa terus membahagiakan anak-anakku. Aku ingin semua baik–baik saja. Ya Tuhan aku berharap mantan suamiku bisa sadar dan dia bisa mendidik Virgo dengan baik. Aku yakin Egkau tidak akan meberikan cobaan melebihi kemampuanku.
Rasi : Loh bu.. ada apa? Kenapa ibu menangis?
Bu Emi : Ibu tidak apa –apa nak. Hanya saja Ibu rindu dengan kakakmu.
Rasi : Iya ya bu, sudah lama kak Virgo tidak datang kemari. Rasi kangen kak Virgo Bu.
Bu Emi : Mungkin kakakmu sedang sibuk nak, sehingga dia belum sempat menengok kita.
Rasi : Mudah-mudahan kak Virgo memang sibuk ya bu, bukan karena lupa sama kita.
Bu Emi : Rasi, kamu tidak boleh bicara seperti itu nak, kakakmu pasti tidak lupa dengan kita. Lebih baik sekarang kita masuk, ayo nak!
(SAMBIL MENANGIS)
Virgo : Kalian lihat, lihat aku, kenapa aku tak bisa seperti kalian, kenapa? Apakah ini adil? Tidak, ini semua tidak adil.
(Ibu.. ibu..ibu...)
Bu Emi : Virgo kamu kenapa nak?
Virgo : Ayah bu, ayah... Ayah memukulku bu.
Bu Emi : Sudahlah nak, tenangkan dirimu, nanti Ibu yang akan bicara kepada ayahmu. Lebih baik kita masuk.
ADEGAN 2
Butet : Hai jeng! hari ini kau mau belanja apa? Alamak lambat kali kau, cepat lah.
Teh Eis : Sabar atuh jeng.
Butet : Sabar sabar, kau suruh aku sabar? Yang tak sabar itu si Ucok dirumah, dia minta dibelikan jeruk dari kemarin tapi tak aku belikan. Kau tak tau apa kalau dia sudah merajuk, menangis, semua barang-barang melayang dia banting, mana kredit semua. Kau tak kasian apa kau? Tega kau?
Teh Eis : Kenapa marah sama saya? Apa salah saya? Saya teh tidak salah apa apa? Kalo saya salah teh saya minta maaf, Betul tidak?
Butet : Alamak, susah ngomong sama kau ya. Sudahlah saya mau beli jeruk dulu.
Teh Eis : Silahkan atuh.
Butet : Eh bu, kau jual jeruk 1 kg berapa?
Sofi : Sepuluh ribu bu.
Butet : Alamak kau jual mahal sekali, disana saja delapan ribu, kau jual sepuluh ribu?
Sofi : Tapi ini jeruk lokal bu.
Lilis : He jeng jeng jeng! Sini atuh!
Lilis : Sini!
Butet : Hah! gosip! ini bu sepuluh ribu ya! Stop!
Alamak dimana-mana lambat kau, macam keong saja kau ini. Cepatlah! Lanjut!
Lilis : Saya punya berita hot nih!
Butet : Sehot apa sih ?
Lilis : Sehot cabe cabean didepan itu loh!
Teh Eis : Jangan lebay gitu atuh jeng!malu maluin aja. Inget umur atuh,
Lilis : Gapapa sekali-kali ya kan, ya dong, ya pastilah. Nih ya... kenal Pak Aris?
Butet & Teh Eis : Kenal.
Lilis : Tadi,saya liat dia lagi ribut dikampung sebelah. Dia itu malak orang, tapi orangnya gak terima. Ujung-ujungnya berantem, orangnya sampe masuk rumah sakit, tapi anehnya Pak Aris ga masuk penjara loh.
Butet : Ga masuk penjara tapi yang jelas pasti dikeroyok dia.
Teh Eis : Pasti babak belur atuh.
Bu Nining : Eh bu, tumben ya Pak Aris ga datang ke pasar?
Bu Yanti : Iya bu, kita kan jadi ga dipalak lagi.
Bu Endah : Iya yah, jadi uang kita aman.
Lilis : Eh bu ada apa toh?
Bu Nining : Ini loh Pak Aris tumben nda datang ke pasar!
Lilis : Aduh duh.. Ibu ini ketinggalan jaman, masa nda tau. Pak Aris itu kan abis dikeroyok. Habis apa?
All : Dikeroyok.
Bu Nining : Apa? Dikeroyok? Alhamdulillah. Sampe mati ga bu?
Lilis : Engga sih.
Bu Nining,Yanti,Endah : Yahh.
Lilis : Tapi kakinya pincang.
Bu Nining,Yanti,Endah : Alhamdulillah.
Bu Nining : 1 atau 2 bu?
Lilis : 1 sih.
Bu Nining,Yanti,Endah : yahh.
(Virgo datang)
Yanti : Virgo kamu kenapa?
Virgo : Aku gak kenapa-napa bu.
Yanti : Ayah kamu memarahi kamu lagi ya? Kamu yang sabar aja ya, kamu itu anak yang baik, pasti akan jadi orang sukses.
Virgo : Iya Bu.
Butet : Elelele... anak macam dia mana mungkin jadi orang sukses, pendidikannya saja sampe lulus SMP, ijasah SMP bisa buat apa dijaman sekarang? Iya gak jeng?
Teh Eis : Jangan begitu atuh jeng, dia ini kan calon orang sukses. Sukses jadi pengangguran kaya ayahnya, betul tidak?
Butet : Betul sajalah, lama kau ini.
Lilis : Udah... daripada ribut ngurursin dia, mending kita pulang daripada nanti ketularan Virgo, yuk jeng!
Yanti : Udah, jangan diambil hati ya Vir omongan mereka.
Virgo : Iya bu, yaudah saya bawa dulu makanannya. Permisi.
Teh Eis : Jeeng!
ADEGAN 3
Fatimah : Ada apa si?
Aisyah : Itu virgo kan?
Fatimah : Masa si?
Aisyah : Jadi kamu gak percaya sama aku?
Fatimah : Engga lah, kan Virgo dirumah ayahnya.
Aisyah : Yaudah kalo gak percaya kita buktiin aja, ayo ikutin aku.
Fatimah : Okeh.
Aisyah & Fatimah : Assalamu’alaikum.
Bu Emi & Virgo : Wa’alaikumsalam.
Fatimah : Eh, kamu apa kabar Vir?
Virgo : Baik.
Fatimah : Loh tapi kok pipi kamu kenapa?
Virgo : Ini tadi jatuh. kalian dari mana?
Aisyah : Tadi kita habis dari sana, terus liat kamu disini, yaudah jadi kita mampir. Kita kan kangen sama kamu. Iya kan?
Fatimah : Iya.
Aisyah : Eh, kok dilihat–lihat muka kamu kusut banget, emang ada masalah ya? Coba crita sama kita, siapa tau nanti kamu bisa lega.
Virgo : Gimana ya. Aku sebenernya udah ngga betah tinggal sama ayah, trus kalo aku salah sedikit pasti dipukul.
Fatimah : Ya kamu yang sabar aja. Bagaimanapun juga itu ayah kamu, kalo ngga ada dia belum tentu ada kamu.
Virgo : Aku udah sabar banget, mungkin kalo aku ngga sabar mungkin sudah aku tusuk pake pisau.
Aisyah : Hus jangan begitu, mending bakar aja.
Virgo : Aku serius. Bantuin dong.
Fatimah : Kamu kalo kasih masukan itu yang baik dong, masa sama orang tua kaya gitu.
Aisyah : Orang tua macam apa kaya gitu sama anak sendiri.
Virgo : Udah-udah. Kalian kok malah ribut sendiri sih. Mau bantuin aku apa ngga sih sebenernya?
Fatimah : Ini nih. Dia yang mulai duluan Vir.
Aisyah : Loh, kok aku sihh?? Kamu tuh.
Fatimah : Kamu.
Aisyah : Kamu.
Fatimah : Kamu.
Aisyah : Iya aku tau aku salah,makannya aku minta maaf.
Fatimah : Yaudah aku maafin.
Virgo : Udah udah, kok kalian ribut lagi.
Fatimah : Dia tuh yang mulai duluan Vir.
Aisyah : Tuh kan kamu mulai lagi.
Bu Emi : Gimana apanya?
Virgo : Eh Ibu. Bukan apa-apa kok Bu. Hehehe
Fatimah : Yaudah kami pulang dulu ya bu.
ADEGAN 4
Eni : Bu, bu, ini bagus nggak? Nanti kita beli ya bu?
Bu Rani : Iya bagus, iya iya nanti kita beli ya.
Berjalan ke warung bu Emi
Bu Rani : Bu Emi, beli rujaknya 2 bungkus ya?
Bu Emi : Iya bu sebentar, eh... ada nak Eni.
Eni : Hehe... iya, Rasi ada bu?
Bu Emi : Ada di dalam, masuk aja nak Eni.
Eni masuk ke rumah Bu Emi
Bu Rani : Loh, Bu Emi kenapa murung?
Bu Emi : Begini Bu Rani, kemarin saya dengar kalau mantan suami saya buat ulah lagi.
Bu Rani : Buat ulah gimana bu?
Bu Emi : Biasa lah bu, dia berantem sampai korbannya masuk rumah sakit. Saya malu, saya malu, saya malu bu, punya mantan suami kaya dia.
Bu Rani : Ah,, dia kan udah jadi mantan bu, nggak ada urusan lagi sama bu Emi, jadi yang sabar aja.
Bu Emi : Iya bu.
Pak Aris : Virgo! Virgo!
Bu Emi : Ada apa mas? Kenapa teriak-teriak? Malu mas sama tetangga!
Pak Aris : Alah diem aja kamu. Dimana kamu sembunyikan Virgo? Virgo keluar kamu.
Rasi : Ayah. Kenapa baru datang kesini yah? Rasi kangen Ayah.
Pak Aris : Ah.. minggir kamu, kamu bukan anakku! Kamu itu cuma anak cacat! Virgo!
Virgo : Apa yang ayah lakukan pada Rasi?
Pak Aris : Sini kamu ( sambil menarik Virgo).
Bu Emi : Jangan kasar Mas! (kemudian pak Aries mendorong ).
Virgo : Ibu....
Bu Emi : Virgo...( sambil menangis).
Bu Rani : Yang sabar ya bu, ayo kita duduk dulu (sambil menuntun bu Emi).
Bu Emi : Ibu lihat sendiri kan? Bagaimana kelakuannya. Saya malu bu, saya malu punya mantan suami kaya dia.
Bu Rani : Sudahlah bu, yang sabar aja.
Bu Emi : Rasi, sudahlah nak, jangan menangis.
Rasi : Kenapa sih bu? Kenapa ayah nggak mau ngakuin Rasi jadi anaknya? Kenapa ayah nggak sayang sama Rasi bu? Kenapa? Apa karna Rasi ini cacat bu? Bilang bu?
Bu Emi : Tenang nak, ayah itu sayang sama kamu! Percaya sama ibu!
Rasi : Nggak, Ibu bohong!
Eni : Iya Rasi, ayah kamu pasti sayang sama kamu.
Bu Emi : Nak Eni, tolong bawa Rasi kedalam ya.
Eni : Iya bu, ayo Rasi kita ke dalam.
Bu Emi : Sebentar ya Bu?
Bu Emi : Ini Bu rujaknya, maaf ya lama,
Bu Rani : Iya enggak apa-apa. Oh ya, ini jadinya berapa bu?
Bu Emi : Jadinya Rp 50.000
Bu Rani menangis
Bu Emi : Ibu ngga usah ikut sedih
Bu Rani : Bukan itu, ini loh rujaknya mahal banget
Bu Emi : Sekarang apa-apa mahal bu, apalagi nanas.
Bu Rani : Ya udah, saya utang dulu. Eni, ayo pulang nak.
Eni : Iya bu. Loh, ibu kenapa menangis?
Bu Rani : Ndak apa-apa.
Eni : Rasi kasian ya bu? Loh, kenapa ibu menangis?
Bu Rani : Itu loh, rujaknya mahal banget.
Eni : Emangnya berapa bu?
Bu Rani : Rp. 50.000
Eni : Apa? Rp. 50.000? ( menangis )
Bu Rani : Loh, itu kan baru 1, kalau 2 ya Rp. 100.000.
ADEGAN 5
Suara pasar....
Bu Marni : Bu, beli ini dong.
Bu Nining : Alhamdulillah, akhirnya ada yang beli juga.
Bu Yati : Emang kenapa, Bu? Dagangannya sepi ya?
Bu Nining : Iya nih, Bu. Mana ditagih uang keamanan terus lagi sama si itu.
Bu Marni : Itu? Itu siapa, Bu.
Bu Nining : Itu loh, Pak Aris.
Bu Marni : Oh, Pak Aris.
Bu Yati : Kemarin saya juga lihat, dia lagi narik-narik anaknya gitu. Kasihan loh, Bu. Ibunya sampe nangis-nangis.
Bu Nining : Masa sih, Bu?
Bu Yati : Iya.
Bu Marni : Alah. Biasa aja kali. Orang kaya gitu emang udah ngga berperikemanusiaan. Harusnya cepet-cepet tuh malaikat nyabut nyawanya.
Bu Nining : Hush. Jangan begitu, Bu. Nanti orangnya ke sini lagi trus berantakin dagangan saya lagi.
Bu Yati : Emang bisa denger apa? Kan jauh.
Bu Nining : Kemarin juga kaya gitu. Jadi, hati-hati aja kalau ngomongin dia. Nanti tiba-tiba nongol lagi orangnya.
Bu Emi : Bu, beli bengkoangnya 1 kg.
Bu Yati : Eh, Bu. Itu mantan istrinya ya?
Bu Nining : Mana? Oh, itu. Iya. Kasihan banget tau, Bu.
Bu Marni : Alah, ngga usah di kasihanin, Bu. Salah sendiri dulu nikah sam orang ngga bener. Akhirnya kejadian juga kan. Seharusnya dulu itu kalau cari suami tau babat bibit bobotnya. Kan yang jadi korban anaknya. ( agak keras ).
Bu Emi hanya diam.
Bu Yati : Eh, Bu. Jangan keras-keras ngomongnya. Nanti orangnya denger loh.
Bu Marni : Ngga apa-apa. Biar denger sekalian. Orang tua macam apa yang tega-teganya ngebiarin anaknya disiksa sama ayah kandungnya sendiri!
Bu Emi : Maaf Bu. Tolong jangan bicara seperti itu. Saya juga tidak rela anak saya disiksa seperti itu. Saya ibunya, Bu. Saya juga punya perasaan. ( sambil menangis ).
Bu Marni : Punya perasaan kok kaya gitu.
Pedagang buah : Udah, Bu. Ngga usah diladenin. Ini bengkoangnya. Lebih baik, Ibu pulang saja, daripada nanti darah tinggi disini.
Bu Emi : Ini uangnya, Bu. Ya sudah, saya pulang dulu. Terima kasih, Bu.
Setelah itu, Bu Emi keluar dari pasar sambil menghapus air matanya.
Bu Ani : Eh, Bu. Ada apaan sih? Kok tadi saya lihat Bu Emi keluar sambil nangis-nangis gitu?
Bu Marni : Ngga apa-apa kok bu, dianya aja yang baper.
Bu Lastri : Baper? Emangnya baper kenapa, Bu.
Bu Nining : Biasa lah. Disindir sama Ibu ini.
Bu Marni : Bukan nyindir, Bu. Cuma mengungkapkan fakta.
Bu Ani : Pasti omongannya pedes deh.
Bu Yati : Ngga pedes kok. Cuma nylekit.
Bu Ani : Jangan begitu bu, kasihan dia. Harusnya kita itu nolongin bukan malah ngomongin dia sampai nangis gitu.
Bu Marni : Ya situ. Ibu saja yang nolongin. Saya mah ogah. Nanti ketularan, lagi. Suami saya kaya gitu. Trus anak-anak saya terlantar. Duh amit-amit deh.
Bu Lastri : Ketularan gimana? Kayak gitu ngga mungkin ketularan lah, Bu. Emangnya penyakit, bisa nular-nular.
Bu Marni : Ya siapa tau aja. Kan lebih baik mencegah daripada mengobati.
Bu Nining : Udah-udah. Kok malah pada ngomongin orang disini? Pada mau ngrumpi apa belanja nih.
Bu Marni : Saya ngga jadi beli bu, makasih.
Bu Nining : Ya udah, kalo ibu ini jadi beli ngga?
Rumi : Saya juga ngga jadi deh.. misi ya bu.
Bu Nining : Loh ini gimana, malah pada pergi. Ahh sebel. Ngapain liat-liat, ketawa lagi, seneng?
ADEGAN 6
Pak Aries : Duh, gimana nih! Uang habis, pedagang pasar pada ngga mau bayar lagi. Gimana ya?! Duh! Sial banget idup gue. Oh, iya! Hahaha Gue kan punya anak sialan itu. Kalau dilita-liat dijual laku berapa ya?? ( Virgo datang ) Eh! Anak sialan! Sini kamu!
Virgo : I-i-ya, Yah. A-a-da apa?
Pak Aries : Kamu mau berbakti sama Ayah kan?
Virgo : Iya, Yah. Memangnya ada apa?
Pak Aris : Sekarang kamu ikut Ayah.
Virgo : Kemana, Yah?
Pak Aris : Sudah! Kamu ini udah dibaikin malah banyak tanya! Cepat ikut Ayah! ( sambil menarik Virgo)
Setelah itu, Pak Aris menarik paksa tangan Virgo dan membawanya ke suatu tempat.
Virgo : Ibu! Ibu! Tolong Virgo Bu!
Bu Emi : Virgo? Kamu kenapa nak?
Virgo : Ayah, Bu. Ayah........ ( sambil menangis )
Bu Emi : Kenapa nak? Apa yang Ayahmu lakukan? Kenapa kamu menangis?
Virgo : Ayah, Bu. Ayah mau menjualku, Bu.
Bu Emi : Astaga! Ayahmu sudah keterlaluan! Sebaiknya kamu tinggal disini dengan Ibu dan Rasi.
Sekarang tenangkan dirimu.
Virgo : Iya, Bu.
Pada saat Virgo pergi ke rumah Bu Emi, Pak Aris marah-marah di pasar.
Pak Aris : Dasar anak tidak tau diri! Kenapa malah kabur! Gimana gue mau dapet duit kalau kaya gini caranya?
Pedagang : Heh, Pak! Anak sendiri dikatain kaya gitu!
Pak Aris : Diem lo! Tau apa lo! Jangan campuri urusan gue ya!
Pedagang : Bukannya ikut campur ya, Pak. Tapi gimana lagi. Bukan rahasia lagi kalau Pak Aris itu orang yang ngga BERPERIKEAMUSIAAN!! Sama anak sendiri kaya gitu! Mau dijual?!! Ayah macam apa itu!!
Pak Aris : Udah mulai berani lo ya!
Pedagang : Saya udah ngga takut lagi sama anda. Iya ngga, Bu?
Pedagang lain : Bener tuh, Bu!
Teman virgo datang..
Fatimah : Permisi Pak,.. bapak..
Aisyah : Alah.. Bapak ayahnya virgo kan?!
Aries : Kalo iya, kenapa?
Fatimah : Saya dengar, Bapak sering menyiksa virgo, terus kemarin saya dengar Bapak mau menjual Virgo.
Pak Aris : Terus kenapa? Apa urusannya sama Lo! Anak kecil ikut campur urusan orang tua. Tau apa Lo!
Aisyah : Kita itu temannya Virgo, kita respect sama dia. Nggak kaya anda, katannya Ayahnya. Kok dijual? Emangnya virgo barang Pak?
Pak Aris : Heh! Lo berani sama gue! Gue ini penguasa di kampung sini. Semua orang hormat sama gue.
Aisyah : Pak Aris yang terhormat, emangnya bapak Tuhan? Emangnya bapak orang bener? Emangnya bapak orang tua saya? Bukan kan? Bapak itu ayahnya Virgo.
Fatimah : Ayah kandung Virgo. Ayah yang seharusnya melindungi Virgo, bukan malah menyiksa, dan memarahinya tiap hari.
Pak Aris : Dianya aja yang ngga becus, ngurusin rumah aja ngga bisa. Berantakan! Kerjaannya nangis mulu tiap hari.
Aisyah : Gimana ngga nangis,.. Virgo itu takut tapi kasian sama bapak. Bapak kerjaannya cuma marah-marah ngga jelas,menyiksa Virgo, mabok-mabokkan, suka malak. Emang bapak ngga sadar? Dosa baapak itu udah segunung. Udah tinggi terus lebbaaaaarr..
Fatimah : Sadar Pak, tobat sebelum terlambat. Allah Maha Pengampun bagi yang mau bertobat dengan sungguh-sungguh.
Aisyah : Udahlah, kita pergi aja, biar mikir.
Kemudian Pak Aris merenungi semua perbuatan yang telah ia lakukan.
Pak Aris : Ya Allah.... ampuni hamba. Maafkan hambamu ini yang tidak bisa menjadi imam yang baik untuk istriku dulu, dan ampuni hamba karena tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk Virgo ya Allah. Ampuni hamba ya Allah...
ADEGAN 7
Pak Aris : Virgo... Virgo... keluarlah nak. Ayo pulang.
Bu Emi : Mau apa lagi kamu kesini mas?! Mau bawa Virgo pergi lagi? Saya tidak akan membiarkan kamu bawa Virgo lagi. Cukup mas, sudah cukup kau menyakiti dia!
Pak Aris : Tidak Emi, dengarkan aku dulu. Aku sudah bertobat Emi, a-a-aku menyesal...
Bu Emi : Cukup! Jangan berakting! Aku sudah tau tipu muslihatmu!
Pak Aris : Tidak Emi, aku benar-benar bertobat. Virgo kemari nak,. Kemari nak
Virgo : Ngga! Bu, Virgo takut.
Aries : Kemarilah nak, maafkan ayah. Ayo kita pulang nak..
Diam-diam virgo mendekati meja dan mengambil pisau. Daan....
(jleb)
Pak Aris : Virgo (merintih kesakitan)
Bu Emi : Virgo, dia ayahmu nak, sadarlah..
Virgo : Nggak Bu, dia itu orang jahat! Udah Yah.. Aku sudah tidak percaya lagi. Lebih baik kau mati saja!
Nama Pemain :
1. Anna Triziana (02) sebagai Bu Marni
2. Denita Ardi Susanti (05) sebagai Teh Eis
3. Dewi Saroh (07) sebagai Bu Emi
4. Dian Ari Safitri (08) sebagai Lilis
5. Edi Prabowo (12) sebagai Pak Aris
6. Eni Parwati (14) sebagai Eni
7. Gita Putri Rahmawati (16) sebagai Aisyah
8. Maya Lestiono M. (18) sebagai Bu Rani
9. Mugi Lestari (21) sebagai Fatimah
10. Nita Meliani (23) sebagai Bu Ani
11. Oki Kurniawati (24) sebagai Bu Yati
12. Riana (27) sebagai Butet
13. Rossy Hanicha (29) sebagai Virgo
14. Rumiati (30) sebagai Bu Lastri
15. Septi Prastiya Yanti (31) sebagai Bu Yanti
16. Sofia Dwi Yanti (33) sebagai Bu Nining
17. Sri Haryati (34) sebagai Bu Endah
18. Ulfatun Sa’diyah (35) sebagai Rasi
SEKAMPUNG
Di sebuah desa ada satu keluarga yang mempunyai masalah, lebih tepatnya broken home, yaitu keluarga dari Bu Emi. Seperti biasa, Bu Emi mengurus rumah dan anaknya yang cacat bernama Rasi. Untuk kehidupan sehari-hari mereka hanya mengandalkan penghasilan dari warung rujak didepan rumahnya.
ADEGAN 1
Sambil membersihkan beras
Bu Emi : Ya Tuhan berikanlah aku kekuatan supaya aku bisa terus membahagiakan anak-anakku. Aku ingin semua baik–baik saja. Ya Tuhan aku berharap mantan suamiku bisa sadar dan dia bisa mendidik Virgo dengan baik. Aku yakin Egkau tidak akan meberikan cobaan melebihi kemampuanku.
Rasi : Loh bu.. ada apa? Kenapa ibu menangis?
Bu Emi : Ibu tidak apa –apa nak. Hanya saja Ibu rindu dengan kakakmu.
Rasi : Iya ya bu, sudah lama kak Virgo tidak datang kemari. Rasi kangen kak Virgo Bu.
Bu Emi : Mungkin kakakmu sedang sibuk nak, sehingga dia belum sempat menengok kita.
Rasi : Mudah-mudahan kak Virgo memang sibuk ya bu, bukan karena lupa sama kita.
Bu Emi : Rasi, kamu tidak boleh bicara seperti itu nak, kakakmu pasti tidak lupa dengan kita. Lebih baik sekarang kita masuk, ayo nak!
(SAMBIL MENANGIS)
Virgo : Kalian lihat, lihat aku, kenapa aku tak bisa seperti kalian, kenapa? Apakah ini adil? Tidak, ini semua tidak adil.
(Ibu.. ibu..ibu...)
Bu Emi : Virgo kamu kenapa nak?
Virgo : Ayah bu, ayah... Ayah memukulku bu.
Bu Emi : Sudahlah nak, tenangkan dirimu, nanti Ibu yang akan bicara kepada ayahmu. Lebih baik kita masuk.
ADEGAN 2
Butet : Hai jeng! hari ini kau mau belanja apa? Alamak lambat kali kau, cepat lah.
Teh Eis : Sabar atuh jeng.
Butet : Sabar sabar, kau suruh aku sabar? Yang tak sabar itu si Ucok dirumah, dia minta dibelikan jeruk dari kemarin tapi tak aku belikan. Kau tak tau apa kalau dia sudah merajuk, menangis, semua barang-barang melayang dia banting, mana kredit semua. Kau tak kasian apa kau? Tega kau?
Teh Eis : Kenapa marah sama saya? Apa salah saya? Saya teh tidak salah apa apa? Kalo saya salah teh saya minta maaf, Betul tidak?
Butet : Alamak, susah ngomong sama kau ya. Sudahlah saya mau beli jeruk dulu.
Teh Eis : Silahkan atuh.
Butet : Eh bu, kau jual jeruk 1 kg berapa?
Sofi : Sepuluh ribu bu.
Butet : Alamak kau jual mahal sekali, disana saja delapan ribu, kau jual sepuluh ribu?
Sofi : Tapi ini jeruk lokal bu.
Lilis : He jeng jeng jeng! Sini atuh!
Lilis : Sini!
Butet : Hah! gosip! ini bu sepuluh ribu ya! Stop!
Alamak dimana-mana lambat kau, macam keong saja kau ini. Cepatlah! Lanjut!
Lilis : Saya punya berita hot nih!
Butet : Sehot apa sih ?
Lilis : Sehot cabe cabean didepan itu loh!
Teh Eis : Jangan lebay gitu atuh jeng!malu maluin aja. Inget umur atuh,
Lilis : Gapapa sekali-kali ya kan, ya dong, ya pastilah. Nih ya... kenal Pak Aris?
Butet & Teh Eis : Kenal.
Lilis : Tadi,saya liat dia lagi ribut dikampung sebelah. Dia itu malak orang, tapi orangnya gak terima. Ujung-ujungnya berantem, orangnya sampe masuk rumah sakit, tapi anehnya Pak Aris ga masuk penjara loh.
Butet : Ga masuk penjara tapi yang jelas pasti dikeroyok dia.
Teh Eis : Pasti babak belur atuh.
Bu Nining : Eh bu, tumben ya Pak Aris ga datang ke pasar?
Bu Yanti : Iya bu, kita kan jadi ga dipalak lagi.
Bu Endah : Iya yah, jadi uang kita aman.
Lilis : Eh bu ada apa toh?
Bu Nining : Ini loh Pak Aris tumben nda datang ke pasar!
Lilis : Aduh duh.. Ibu ini ketinggalan jaman, masa nda tau. Pak Aris itu kan abis dikeroyok. Habis apa?
All : Dikeroyok.
Bu Nining : Apa? Dikeroyok? Alhamdulillah. Sampe mati ga bu?
Lilis : Engga sih.
Bu Nining,Yanti,Endah : Yahh.
Lilis : Tapi kakinya pincang.
Bu Nining,Yanti,Endah : Alhamdulillah.
Bu Nining : 1 atau 2 bu?
Lilis : 1 sih.
Bu Nining,Yanti,Endah : yahh.
(Virgo datang)
Yanti : Virgo kamu kenapa?
Virgo : Aku gak kenapa-napa bu.
Yanti : Ayah kamu memarahi kamu lagi ya? Kamu yang sabar aja ya, kamu itu anak yang baik, pasti akan jadi orang sukses.
Virgo : Iya Bu.
Butet : Elelele... anak macam dia mana mungkin jadi orang sukses, pendidikannya saja sampe lulus SMP, ijasah SMP bisa buat apa dijaman sekarang? Iya gak jeng?
Teh Eis : Jangan begitu atuh jeng, dia ini kan calon orang sukses. Sukses jadi pengangguran kaya ayahnya, betul tidak?
Butet : Betul sajalah, lama kau ini.
Lilis : Udah... daripada ribut ngurursin dia, mending kita pulang daripada nanti ketularan Virgo, yuk jeng!
Yanti : Udah, jangan diambil hati ya Vir omongan mereka.
Virgo : Iya bu, yaudah saya bawa dulu makanannya. Permisi.
Teh Eis : Jeeng!
ADEGAN 3
Fatimah : Ada apa si?
Aisyah : Itu virgo kan?
Fatimah : Masa si?
Aisyah : Jadi kamu gak percaya sama aku?
Fatimah : Engga lah, kan Virgo dirumah ayahnya.
Aisyah : Yaudah kalo gak percaya kita buktiin aja, ayo ikutin aku.
Fatimah : Okeh.
Aisyah & Fatimah : Assalamu’alaikum.
Bu Emi & Virgo : Wa’alaikumsalam.
Fatimah : Eh, kamu apa kabar Vir?
Virgo : Baik.
Fatimah : Loh tapi kok pipi kamu kenapa?
Virgo : Ini tadi jatuh. kalian dari mana?
Aisyah : Tadi kita habis dari sana, terus liat kamu disini, yaudah jadi kita mampir. Kita kan kangen sama kamu. Iya kan?
Fatimah : Iya.
Aisyah : Eh, kok dilihat–lihat muka kamu kusut banget, emang ada masalah ya? Coba crita sama kita, siapa tau nanti kamu bisa lega.
Virgo : Gimana ya. Aku sebenernya udah ngga betah tinggal sama ayah, trus kalo aku salah sedikit pasti dipukul.
Fatimah : Ya kamu yang sabar aja. Bagaimanapun juga itu ayah kamu, kalo ngga ada dia belum tentu ada kamu.
Virgo : Aku udah sabar banget, mungkin kalo aku ngga sabar mungkin sudah aku tusuk pake pisau.
Aisyah : Hus jangan begitu, mending bakar aja.
Virgo : Aku serius. Bantuin dong.
Fatimah : Kamu kalo kasih masukan itu yang baik dong, masa sama orang tua kaya gitu.
Aisyah : Orang tua macam apa kaya gitu sama anak sendiri.
Virgo : Udah-udah. Kalian kok malah ribut sendiri sih. Mau bantuin aku apa ngga sih sebenernya?
Fatimah : Ini nih. Dia yang mulai duluan Vir.
Aisyah : Loh, kok aku sihh?? Kamu tuh.
Fatimah : Kamu.
Aisyah : Kamu.
Fatimah : Kamu.
Aisyah : Iya aku tau aku salah,makannya aku minta maaf.
Fatimah : Yaudah aku maafin.
Virgo : Udah udah, kok kalian ribut lagi.
Fatimah : Dia tuh yang mulai duluan Vir.
Aisyah : Tuh kan kamu mulai lagi.
Bu Emi : Gimana apanya?
Virgo : Eh Ibu. Bukan apa-apa kok Bu. Hehehe
Fatimah : Yaudah kami pulang dulu ya bu.
ADEGAN 4
Eni : Bu, bu, ini bagus nggak? Nanti kita beli ya bu?
Bu Rani : Iya bagus, iya iya nanti kita beli ya.
Berjalan ke warung bu Emi
Bu Rani : Bu Emi, beli rujaknya 2 bungkus ya?
Bu Emi : Iya bu sebentar, eh... ada nak Eni.
Eni : Hehe... iya, Rasi ada bu?
Bu Emi : Ada di dalam, masuk aja nak Eni.
Eni masuk ke rumah Bu Emi
Bu Rani : Loh, Bu Emi kenapa murung?
Bu Emi : Begini Bu Rani, kemarin saya dengar kalau mantan suami saya buat ulah lagi.
Bu Rani : Buat ulah gimana bu?
Bu Emi : Biasa lah bu, dia berantem sampai korbannya masuk rumah sakit. Saya malu, saya malu, saya malu bu, punya mantan suami kaya dia.
Bu Rani : Ah,, dia kan udah jadi mantan bu, nggak ada urusan lagi sama bu Emi, jadi yang sabar aja.
Bu Emi : Iya bu.
Pak Aris : Virgo! Virgo!
Bu Emi : Ada apa mas? Kenapa teriak-teriak? Malu mas sama tetangga!
Pak Aris : Alah diem aja kamu. Dimana kamu sembunyikan Virgo? Virgo keluar kamu.
Rasi : Ayah. Kenapa baru datang kesini yah? Rasi kangen Ayah.
Pak Aris : Ah.. minggir kamu, kamu bukan anakku! Kamu itu cuma anak cacat! Virgo!
Virgo : Apa yang ayah lakukan pada Rasi?
Pak Aris : Sini kamu ( sambil menarik Virgo).
Bu Emi : Jangan kasar Mas! (kemudian pak Aries mendorong ).
Virgo : Ibu....
Bu Emi : Virgo...( sambil menangis).
Bu Rani : Yang sabar ya bu, ayo kita duduk dulu (sambil menuntun bu Emi).
Bu Emi : Ibu lihat sendiri kan? Bagaimana kelakuannya. Saya malu bu, saya malu punya mantan suami kaya dia.
Bu Rani : Sudahlah bu, yang sabar aja.
Bu Emi : Rasi, sudahlah nak, jangan menangis.
Rasi : Kenapa sih bu? Kenapa ayah nggak mau ngakuin Rasi jadi anaknya? Kenapa ayah nggak sayang sama Rasi bu? Kenapa? Apa karna Rasi ini cacat bu? Bilang bu?
Bu Emi : Tenang nak, ayah itu sayang sama kamu! Percaya sama ibu!
Rasi : Nggak, Ibu bohong!
Eni : Iya Rasi, ayah kamu pasti sayang sama kamu.
Bu Emi : Nak Eni, tolong bawa Rasi kedalam ya.
Eni : Iya bu, ayo Rasi kita ke dalam.
Bu Emi : Sebentar ya Bu?
Bu Emi : Ini Bu rujaknya, maaf ya lama,
Bu Rani : Iya enggak apa-apa. Oh ya, ini jadinya berapa bu?
Bu Emi : Jadinya Rp 50.000
Bu Rani menangis
Bu Emi : Ibu ngga usah ikut sedih
Bu Rani : Bukan itu, ini loh rujaknya mahal banget
Bu Emi : Sekarang apa-apa mahal bu, apalagi nanas.
Bu Rani : Ya udah, saya utang dulu. Eni, ayo pulang nak.
Eni : Iya bu. Loh, ibu kenapa menangis?
Bu Rani : Ndak apa-apa.
Eni : Rasi kasian ya bu? Loh, kenapa ibu menangis?
Bu Rani : Itu loh, rujaknya mahal banget.
Eni : Emangnya berapa bu?
Bu Rani : Rp. 50.000
Eni : Apa? Rp. 50.000? ( menangis )
Bu Rani : Loh, itu kan baru 1, kalau 2 ya Rp. 100.000.
ADEGAN 5
Suara pasar....
Bu Marni : Bu, beli ini dong.
Bu Nining : Alhamdulillah, akhirnya ada yang beli juga.
Bu Yati : Emang kenapa, Bu? Dagangannya sepi ya?
Bu Nining : Iya nih, Bu. Mana ditagih uang keamanan terus lagi sama si itu.
Bu Marni : Itu? Itu siapa, Bu.
Bu Nining : Itu loh, Pak Aris.
Bu Marni : Oh, Pak Aris.
Bu Yati : Kemarin saya juga lihat, dia lagi narik-narik anaknya gitu. Kasihan loh, Bu. Ibunya sampe nangis-nangis.
Bu Nining : Masa sih, Bu?
Bu Yati : Iya.
Bu Marni : Alah. Biasa aja kali. Orang kaya gitu emang udah ngga berperikemanusiaan. Harusnya cepet-cepet tuh malaikat nyabut nyawanya.
Bu Nining : Hush. Jangan begitu, Bu. Nanti orangnya ke sini lagi trus berantakin dagangan saya lagi.
Bu Yati : Emang bisa denger apa? Kan jauh.
Bu Nining : Kemarin juga kaya gitu. Jadi, hati-hati aja kalau ngomongin dia. Nanti tiba-tiba nongol lagi orangnya.
Bu Emi : Bu, beli bengkoangnya 1 kg.
Bu Yati : Eh, Bu. Itu mantan istrinya ya?
Bu Nining : Mana? Oh, itu. Iya. Kasihan banget tau, Bu.
Bu Marni : Alah, ngga usah di kasihanin, Bu. Salah sendiri dulu nikah sam orang ngga bener. Akhirnya kejadian juga kan. Seharusnya dulu itu kalau cari suami tau babat bibit bobotnya. Kan yang jadi korban anaknya. ( agak keras ).
Bu Emi hanya diam.
Bu Yati : Eh, Bu. Jangan keras-keras ngomongnya. Nanti orangnya denger loh.
Bu Marni : Ngga apa-apa. Biar denger sekalian. Orang tua macam apa yang tega-teganya ngebiarin anaknya disiksa sama ayah kandungnya sendiri!
Bu Emi : Maaf Bu. Tolong jangan bicara seperti itu. Saya juga tidak rela anak saya disiksa seperti itu. Saya ibunya, Bu. Saya juga punya perasaan. ( sambil menangis ).
Bu Marni : Punya perasaan kok kaya gitu.
Pedagang buah : Udah, Bu. Ngga usah diladenin. Ini bengkoangnya. Lebih baik, Ibu pulang saja, daripada nanti darah tinggi disini.
Bu Emi : Ini uangnya, Bu. Ya sudah, saya pulang dulu. Terima kasih, Bu.
Setelah itu, Bu Emi keluar dari pasar sambil menghapus air matanya.
Bu Ani : Eh, Bu. Ada apaan sih? Kok tadi saya lihat Bu Emi keluar sambil nangis-nangis gitu?
Bu Marni : Ngga apa-apa kok bu, dianya aja yang baper.
Bu Lastri : Baper? Emangnya baper kenapa, Bu.
Bu Nining : Biasa lah. Disindir sama Ibu ini.
Bu Marni : Bukan nyindir, Bu. Cuma mengungkapkan fakta.
Bu Ani : Pasti omongannya pedes deh.
Bu Yati : Ngga pedes kok. Cuma nylekit.
Bu Ani : Jangan begitu bu, kasihan dia. Harusnya kita itu nolongin bukan malah ngomongin dia sampai nangis gitu.
Bu Marni : Ya situ. Ibu saja yang nolongin. Saya mah ogah. Nanti ketularan, lagi. Suami saya kaya gitu. Trus anak-anak saya terlantar. Duh amit-amit deh.
Bu Lastri : Ketularan gimana? Kayak gitu ngga mungkin ketularan lah, Bu. Emangnya penyakit, bisa nular-nular.
Bu Marni : Ya siapa tau aja. Kan lebih baik mencegah daripada mengobati.
Bu Nining : Udah-udah. Kok malah pada ngomongin orang disini? Pada mau ngrumpi apa belanja nih.
Bu Marni : Saya ngga jadi beli bu, makasih.
Bu Nining : Ya udah, kalo ibu ini jadi beli ngga?
Rumi : Saya juga ngga jadi deh.. misi ya bu.
Bu Nining : Loh ini gimana, malah pada pergi. Ahh sebel. Ngapain liat-liat, ketawa lagi, seneng?
ADEGAN 6
Pak Aries : Duh, gimana nih! Uang habis, pedagang pasar pada ngga mau bayar lagi. Gimana ya?! Duh! Sial banget idup gue. Oh, iya! Hahaha Gue kan punya anak sialan itu. Kalau dilita-liat dijual laku berapa ya?? ( Virgo datang ) Eh! Anak sialan! Sini kamu!
Virgo : I-i-ya, Yah. A-a-da apa?
Pak Aries : Kamu mau berbakti sama Ayah kan?
Virgo : Iya, Yah. Memangnya ada apa?
Pak Aris : Sekarang kamu ikut Ayah.
Virgo : Kemana, Yah?
Pak Aris : Sudah! Kamu ini udah dibaikin malah banyak tanya! Cepat ikut Ayah! ( sambil menarik Virgo)
Setelah itu, Pak Aris menarik paksa tangan Virgo dan membawanya ke suatu tempat.
Virgo : Ibu! Ibu! Tolong Virgo Bu!
Bu Emi : Virgo? Kamu kenapa nak?
Virgo : Ayah, Bu. Ayah........ ( sambil menangis )
Bu Emi : Kenapa nak? Apa yang Ayahmu lakukan? Kenapa kamu menangis?
Virgo : Ayah, Bu. Ayah mau menjualku, Bu.
Bu Emi : Astaga! Ayahmu sudah keterlaluan! Sebaiknya kamu tinggal disini dengan Ibu dan Rasi.
Sekarang tenangkan dirimu.
Virgo : Iya, Bu.
Pada saat Virgo pergi ke rumah Bu Emi, Pak Aris marah-marah di pasar.
Pak Aris : Dasar anak tidak tau diri! Kenapa malah kabur! Gimana gue mau dapet duit kalau kaya gini caranya?
Pedagang : Heh, Pak! Anak sendiri dikatain kaya gitu!
Pak Aris : Diem lo! Tau apa lo! Jangan campuri urusan gue ya!
Pedagang : Bukannya ikut campur ya, Pak. Tapi gimana lagi. Bukan rahasia lagi kalau Pak Aris itu orang yang ngga BERPERIKEAMUSIAAN!! Sama anak sendiri kaya gitu! Mau dijual?!! Ayah macam apa itu!!
Pak Aris : Udah mulai berani lo ya!
Pedagang : Saya udah ngga takut lagi sama anda. Iya ngga, Bu?
Pedagang lain : Bener tuh, Bu!
Teman virgo datang..
Fatimah : Permisi Pak,.. bapak..
Aisyah : Alah.. Bapak ayahnya virgo kan?!
Aries : Kalo iya, kenapa?
Fatimah : Saya dengar, Bapak sering menyiksa virgo, terus kemarin saya dengar Bapak mau menjual Virgo.
Pak Aris : Terus kenapa? Apa urusannya sama Lo! Anak kecil ikut campur urusan orang tua. Tau apa Lo!
Aisyah : Kita itu temannya Virgo, kita respect sama dia. Nggak kaya anda, katannya Ayahnya. Kok dijual? Emangnya virgo barang Pak?
Pak Aris : Heh! Lo berani sama gue! Gue ini penguasa di kampung sini. Semua orang hormat sama gue.
Aisyah : Pak Aris yang terhormat, emangnya bapak Tuhan? Emangnya bapak orang bener? Emangnya bapak orang tua saya? Bukan kan? Bapak itu ayahnya Virgo.
Fatimah : Ayah kandung Virgo. Ayah yang seharusnya melindungi Virgo, bukan malah menyiksa, dan memarahinya tiap hari.
Pak Aris : Dianya aja yang ngga becus, ngurusin rumah aja ngga bisa. Berantakan! Kerjaannya nangis mulu tiap hari.
Aisyah : Gimana ngga nangis,.. Virgo itu takut tapi kasian sama bapak. Bapak kerjaannya cuma marah-marah ngga jelas,menyiksa Virgo, mabok-mabokkan, suka malak. Emang bapak ngga sadar? Dosa baapak itu udah segunung. Udah tinggi terus lebbaaaaarr..
Fatimah : Sadar Pak, tobat sebelum terlambat. Allah Maha Pengampun bagi yang mau bertobat dengan sungguh-sungguh.
Aisyah : Udahlah, kita pergi aja, biar mikir.
Kemudian Pak Aris merenungi semua perbuatan yang telah ia lakukan.
Pak Aris : Ya Allah.... ampuni hamba. Maafkan hambamu ini yang tidak bisa menjadi imam yang baik untuk istriku dulu, dan ampuni hamba karena tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk Virgo ya Allah. Ampuni hamba ya Allah...
ADEGAN 7
Pak Aris : Virgo... Virgo... keluarlah nak. Ayo pulang.
Bu Emi : Mau apa lagi kamu kesini mas?! Mau bawa Virgo pergi lagi? Saya tidak akan membiarkan kamu bawa Virgo lagi. Cukup mas, sudah cukup kau menyakiti dia!
Pak Aris : Tidak Emi, dengarkan aku dulu. Aku sudah bertobat Emi, a-a-aku menyesal...
Bu Emi : Cukup! Jangan berakting! Aku sudah tau tipu muslihatmu!
Pak Aris : Tidak Emi, aku benar-benar bertobat. Virgo kemari nak,. Kemari nak
Virgo : Ngga! Bu, Virgo takut.
Aries : Kemarilah nak, maafkan ayah. Ayo kita pulang nak..
Diam-diam virgo mendekati meja dan mengambil pisau. Daan....
(jleb)
Pak Aris : Virgo (merintih kesakitan)
Bu Emi : Virgo, dia ayahmu nak, sadarlah..
Virgo : Nggak Bu, dia itu orang jahat! Udah Yah.. Aku sudah tidak percaya lagi. Lebih baik kau mati saja!
Langganan:
Postingan (Atom)